Friday, March 18, 2011

Kemiskinan dan Kesenjangan Pendapatan

KEMISKINAN DAN KESENJANGAN PENDAPATAN

I. Pendahuluan

Kemiskinan merupakan suatu fenomena yang bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan suatu fenomena yang bersifat global. Kemiskinan adalah factor besar dimana sebagian anak tidak mendapatkan kehidupan yang layak, pendidikan yang cukup serta kesehatan yang bagus.

Persoalan kemiskinan ini lebih dipicu karena masih banyaknya masyarakat yang mengalami pengangguran dalam bekerja. Pengangguran yang dialami masyarakat inilah yang membuat sulitnya memenuhi kebutuhan hidupnya , sehingga angka kemiskinan selalu ada.

II. Pembahasan

Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:

* Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.

* Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.

* Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.

Penyebab kemiskinan

Kemiskinan banyak dihubungkan dengan:

* penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin;

* penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga;

* penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar;

* penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi;

* penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.

Meskipun diterima luas bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah sebagai akibat dari kemalasan, namun di Amerika Serikat (negara terkaya per kapita di dunia) misalnya memiliki jutaan masyarakat yang diistilahkan sebagai pekerja miskin; yaitu, orang yang tidak sejahtera atau rencana bantuan publik, namun masih gagal melewati atas garis kemiskinan.

Kemiskinan bisa dikelompokan dalam dua kategori , yaitu Kemiskinan absolut dan Kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut mengacu pada satu set standard yang konsisten , tidak terpengaruh oleh waktu dan tempat / negara. Sebuah contoh dari pengukuran absolut adalah persentase dari populasi yang makan dibawah jumlah yg cukup menopang kebutuhan tubuh manusia (kira kira 2000-2500 kalori per hari untuk laki laki dewasa).

Bank Dunia mendefinisikan Kemiskinan absolut sebagai hidup dg pendapatan dibawah USD $1/hari dan Kemiskinan menengah untuk pendapatan dibawah $2 per hari, dg batasan ini maka diperkiraan pada 2001 1,1 miliar orang didunia mengkonsumsi kurang dari $1/hari dan 2,7 miliar orang didunia mengkonsumsi kurang dari $2/hari."[1] Proporsi penduduk negara berkembang yang hidup dalam Kemiskinan ekstrem telah turun dari 28% pada 1990 menjadi 21% pada 2001.[1] Melihat pada periode 1981-2001, persentase dari penduduk dunia yang hidup dibawah garis kemiskinan $1 dolar/hari telah berkurang separuh. Tetapi , nilai dari $1 juga mengalami penurunan dalam kurun waktu tersebut.

Meskipun kemiskinan yang paling parah terdapat di dunia bekembang, ada bukti tentang kehadiran kemiskinan di setiap region. Di negara-negara maju, kondisi ini menghadirkan kaum tuna wisma yang berkelana ke sana kemari dan daerah pinggiran kota dan ghetto yang miskin. Kemiskinan dapat dilihat sebagai kondisi kolektif masyarakat miskin, atau kelompok orang-orang miskin, dan dalam pengertian ini keseluruhan negara kadang-kadang dianggap miskin. Untuk menghindari stigma ini, negara-negara ini biasanya disebut sebagai negara berkembang.

Kemiskinan di Indonesia

Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2010 sebesar 31,02 juta orang (13,33 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2009 yang berjumlah 32,53 juta (14,15 persen), berarti jumlah penduduk miskin berkurang 1,51 juta jiwa.

Jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun lebih besar daripada daerah perdesaan. Selama periode Maret 2009-Maret 2010, penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang 0,81 juta orang, sementara di daerah perdesaan berkurang 0,69 juta orang (Tabel 2).

Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah dari Maret 2009 ke Maret 2010. Pada Maret 2009, sebagian besar (63,38 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan begitu juga pada Maret 2010, yaitu sebesar 64,23 persen.

Penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin selama periode Maret 2009-Maret 2010 nampaknya berkaitan dengan faktor-faktor berikut:

a. Selama periode Maret 2009-Maret 2010 inflasi umum relatif rendah, yaitu sebesar 3,43 persen.

Menurut kelompok pengeluaran kenaikan harga selama periode tersebut terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 4,11 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 8,04 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar 3,85 persen; kelompok kesehatan sebesar 3,18 persen; kelompok sandang sebesar 0,78 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 2,08 persen, serta kelompok transpor dan komunikasi dan jasa keuangan sebesar 1,38 persen.

b. Rata-rata upah harian buruh tani dan buruh bangunan masing-masing naik sebesar 3,27 persen dan

3,86 persen selama periode Maret 2009-Maret 2010.

c. Produksi padi tahun 2010 (hasil Angka Ramalan/ARAM II) mencapai 65,15 juta ton GKG, naik sekitar 1,17 persen dari produksi padi tahun 2009 yang sebesar 64,40 juta ton GKG.

d. Sebagian besar penduduk miskin (64,65 persen pada tahun 2009) bekerja di Sektor Pertanian. NTP (Nilai Tukar Petani) naik 2,45 persen dari 98,78 pada Maret 2009 menjadi 101,20 pada Maret 2010.

e. Perekonomian Indonesia Triwulan I 2010 tumbuh sebesar 5,7 persen terhadap Triwulan I 2009, sedangkan pengeluaran konsumsi rumah tangga meningkat sebesar 3,9 persen pada periode yang sama.

Tabel 1

Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin

Menurut Daerah, Maret 2009-Maret 2010



Makanan

Bukan Makanan

Total

miskin (juta)

miskin

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

Perkotaan

Maret 2009

155 909

66 214

222 123

11,91

10,72

Maret 2010

163 077

69 912

232 989

11,10

9,87

Perdesaan

Maret 2009

139 331

40 503

179 835

20,62

17,35

Maret 2010

148 939

43 415

192 354

19,93

16,56

Kota+Desa

Maret 2009

147 339

52 923

200 262

32,53

14,15

Maret 2010

155 615

56 111

211 726

31,02

13,33

Daerah/Tahun


Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bln)


Jumlah penduduk


Persentase penduduk


Sumber: Diolah dari data Susenas Panel Maret 2009 dan Maret 2010.

Dilihat dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2010, perkembangan tingkat kemiskinan ditunjukkan oleh tabel berikut:

Tabel 2

Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia

Menurut Daerah, 2004-2010

Tahun



Kota

Desa

Kota+Desa


Kota

Desa

Kota+Desa

(1)

(2)

(3)

(4)


(5)

(6)

(7)

2004

11,40

24,80

36,10


12,13

20,11

16,66

2005

12,40

22,70

35,10


11,68

19,98

15,97

2006

14,49

24,81

39,30


13,47

21,81

17,75

2007

13,56

23,61

37,17


12,52

20,37

16,58

2008

12,77

22,19

34,96


11,65

18,93

15,42

2009

11,91

20,62

32,53


10,72

17,35

14,15

2010

11,10

19,93

31,02


9,87

16,56

13,33

Jumlah Penduduk Miskin (Juta) Persentase Penduduk Miskin

Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)

Definisi Kesenjangan

Kesenjangan mengacu pada standar hidup relatif dari seluruh masyarakat. Sebab kesenjangan antar wilayah yaitu adanya perbedaan faktor anugerah awal (Endowment Factor). Perbedaan inilah yang menyebabkan tingkat pembangunan di berbagai wilayah dan daerah berbeda-beda, sehingga menimbulkan gap atau jurang kesejahteraan di berbagai wilayah tersebut (Sukirno, Sadono, 1976).

Menurut Mydral (1957), perbedaan tingkat kemajuan ekonomi antar daerah yang berlebihan akan mengakibatkan pengaruh yang merugikan (backwash effects) mendominasi pengaruh yang menguntungkan (spread effects) yang dalam hal ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan. Pelaku-pelaku yang mempunyai kekuatan di pasar secara normal akan cenderung meningkat bukannya menurun, sehingga mengakibakan kesenjangan antar daerah (Arsyad,Lincolin, 1999:129).

Adelman dan Moris berpendapat bahwa kesenjangan pendapatan di daerah ditentukan oleh jenis pembangunan ekonomi yang ditunjukkan oleh ukuran negara, sumber daya alam, dan kebijakan yang dianut. Dengan kata lain, faktor kebijakan dan dimensi structural perlu diperhatikan selain laju pertumbuhan ekonomi (Kuncoro, Mudrajad,1997:111).

Trend Dalam Kesenjangan Kemiskinan

Kesenjangan Kota dan Desa

Berbagai studi empiris menunjukkan modernisasi pertanian telah memperlebar kesenjangan distribusi pendapatan. Studi Gibbons, et.al. (1980) menyimpulkan bahwa Revolusi hijau telah memperparah kepincangan distribusi pendapatan masyarakat karena meskipun petani kecil secara umum membaik kondisinya sebagai hasil modernisasi pertanian, namun posisi mereka secara relatif lebih buruk dibanding petani kaya yang jauh meningkat penghasilannya.

Kesenjangan Regional

Isu kesenjangan ekonomi antardaerah telah lama menjadi bahan kajian para pakar ekonomi regional. Hendra Esmara (1975) merupakan penelitian pertama yang mengukur kesenjangan ekonomi antardaerah. Berdasar data dari tahun 1950 hingga 1960, ia menyimpulkan Indonesia merupakan negara dengan kategori kesenjangan daerah yang rendah apabila sektor non migas diabaikan.

Ardani (1996, 1992) telah menganalisis kesenjangan pendapatan dan konsumsi antar daerah dengan menggunakan indeks Williamson selama 1968-

1993 dan 1983-1993. Kesimpulannya mendukung hipotesis Williamson (1965)

bahwa pada tahap awal pembangunan ekonomi terdapat kesenjangan kemakmuran antardaerah, namun semakin maju pembangunan ekonomi kesenjangan tersebut semakin menyempit. Studi Ardani agaknya sejalan dengan hasil studi Akita dan Lukman (1994), yang menemukan tidak terdapatnya perubahan kesenjangan ekonoi antardaerah selama 1983-1990.

Dalam konstelasi perkembangan terakhir di Indonesia, kesenjangan ekonomi setidaknya dapat dilihat dari 3 dimensi, yaitu : berdasarkan tingkat kemodernan, regional, dan etnis. Pertama, kesenjanggan dari tingkat kemoderanan, yaitu kesenjangan antara sektor modern dan sektor tradisional. Sektor moderen umumnya berada di perkotaan dan sektor industri, sedangkan sektor tradisional umumnya berada di pedesaan dan sektor tradisional. Kedua, kesenjangan regional adalah antara Katimin (Kawasan Timur Indonesia) dan Kabirin (Kawasan Barat Indonesia). Ketiga, kesenjangan menurut etnis, yaitu antara pribumi dengan non pribumi.

Apabila ketiga dimensi ini digabungkan maka akan diperoleh potret kesenjangan kemakmuran di Indonesia, yaitu : semakin ke Kabirin maka semakin banyak dijumpai sektor modern dan sektor industri, dan semakin banyak golongan non pribumi yang menguasai perekonomian. Sebaliknya semakin ke Katimin, semakin banyak dijumpai sektor pertanian dan tradisional, dan semakin banyak pribumi yang mendominasi usaha bisnis.

Kesenjangan Interpersonal

Hughes dan Islam (1981, 52-53) menunjukkan bahwa ada peningkatan yang lebih besar dalam kesenjangan di Jawa dibanding daerah manapun antara

tahun 1970 sampai 1976. Peningkatan kesenjangan ini terutama akibat adanya perubahan distribusi pendapatan pada golongan berpenghasilan tinggi, yang dapat ditafsirkan bahwa yang kaya semakin kaya. Di daerah perdesaan Jawa ternyata terjadi penurunan kesenjangan, yang mengindikasikan adanya perubahan dalam golongan pendapatan yang paling rendah. Di luar Jawa kesenjangan lebih rendah dibandingkan di Jawa, dan penurunan kesenjangan di desa relatif lebih besar.

Cara Mengatasi Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial

Pertama dengan menyukseskan pembangunan ekonomi. Sehingga dengan seiringnya pertumbuhan ekonomi tercipta pula lapangan pekerjaan. Apabila setiap orang memiliki pekerjaan mereka dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dari pendapatan yang mereka terima. Dan apabila pertumbuhan ekonomi berjalan lancar maka pertumbuhan dalam usaha juga akan naik sehingga usaha mendapat banyak profit yang akan meningkatkan pajak yang harus mereka bayar sehingga pendapatan Negara juga bertambah melalui sector pajak. Apabila pertumbuhan ekonomi tumbuh secara baik, adil. dan berkelanjutan maka dapat dipastikan angka kemiskinan dapat ditekan. Terlebih bila situasi politik, dan keamanan yang kondusif.

Kedua, adanya bantuan dari pemerintah berpa BLT, Raskin, Jamkesmas dll.

Ketiga, adanya kesadaran dari masyarakat yang mempunyai kemampuan lebih untuk menyumbang atau membantu masyarakat miskin. Bantuan dapat disalurkan melalui Panti Sosial, termasuk zakat, infaq, shadaqah, dan kegiatan amal lainnya.

III. Kesimpulan

Kemiskinan dan Kesenjangan Pendapatan merupakan dua hal yang saling berkaitan, sehingga untuk menyelesaikan permasalahannya secara bertahap yaitu dengan menyukseskan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi adalah kunci dari penyelesaian permasalahan diatas, sehingga dalam rangka mewujudkan pertumbuhan diatas kita sebagai warna Negara Indonesia wajib mendukung dan terlibat dalam kegiatan tersebut.

Pemerintah sebagai pelaku dan penentu kebijakan juga harus memihak kepada rakyat sehingga bukan rakyat yang akan dikorbankan apabila kebijakan yang telah ditentukan tidak berjalan lancar.

Sumber:

www.wikipedia.org

http://tnp2k.wapresri.go.id/data.html

http://nasional.kompas.com/read/2011/03/17/22010284/Tiga.Resep.Kurangi.Kemiskinan.Ala.SBY

Friday, March 11, 2011

Pendapatan Nasional dan Neraca Pembayaran

NERACA PEMBAYARAN, PENDAPATAN NASIONAL, GDP, & GNP INDONESIA

I. Pendahuluan

Setelah membaca dan mempelajari tentang Perekonomian Indonesia dan beberapa sistem perekonomian yang ada di dunia. Sekarang kita akan membahas beberapa elemen penentu dari maju atau tidaknya suatu perkonomian di dunia, termasuk Indonesia.

Dengan membaca tulisan ini anda diharapkan dapat mengerti dan menjelaskan mengenai Neraca pembayaran, Pendapatan nasional serta dapat menghitung GDP, GNP, NNP, NNI, PI dan DI.

Neraca pembayaran, pendapatan nasional, produk domestik bruto atau GDP, dan produk nasional bruto atau GNP adalah elemen-elemen penting dalam suatu perekonomian negara, karena dengan mengetahui dan mempelajari ke empat hal tersebut, kita dapat mengetahui, menganalisis, dan menetukan hasil dari kebijakan ekonomi yang diajalankan suatu negara. Apakah mempunyai dampak positif? Apakah berjalan dengan baik? Dan dapat menentukan kemakmuran atau kesejahteraan suatu negara.

II. Pembahasan

Pendapatan nasional adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh rumah tangga keluarga (RTK) di suatu negara dari penyerahan faktor-faktor produksi dalam satu periode,biasanya selama satu tahun.

Sejarah Pendapatan Nasional

Konsep pendapatan nasional pertama kali dicetuskan oleh Sir William Petty dari Inggris yang berusaha menaksir pendapatan nasional negaranya(Inggris) pada tahun 1665. Dalam perhitungannya, ia menggunakan anggapan bahwa pendapatan nasional merupakan penjumlahan biaya hidup (konsumsi) selama setahun. Namun, pendapat tersebut tidak disepakati oleh para ahli ekonomi modern, sebab menurut pandangan ilmu ekonomi modern, konsumsi bukanlah satu-satunya unsur dalam perhitungan pendapatan nasional. Menurut mereka, alat utama sebagai pengukur kegiatan perekonomian adalah Produk Nasional Bruto (Gross National Product, GNP), yaitu seluruh jumlah barang dan jasa yang dihasilkan tiap tahun oleh negara yang bersangkutan diukur menurut harga pasar pada suatu negara.

Konsep Pendapatan Nasional

Kinerja perekonomian dari suatu negara dalam periode tertentu dapat diukur melalui satu indikator penting yakni data pendapatan nasional. Pendapatan nasional merupakan salah satu ukuran pertumbuhan ekonomi suatu negara. Perhitungan pendapatan nasional (national income) menyajikan ukuran-ukuran keseluruhan / agregat nilai dasar dari seluruh barang dan jasa dalam bentuk jadi / akhir, yang diproduksi dalam perekonomian yang bersangkutan selama jangka waktu satu tahun. Konsep ini dapat diukur dari sisi produksi, penerimaan dan pengeluaran.

Berikut adalah beberapa konsep pendapatan nasional

* Produk Domestik Bruto (GDP)

Produk domestik bruto (Gross Domestic Product) merupakan jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun. Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah negara yang bersangkutan. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, karenanya jumlah yang didapatkan dari GDP dianggap bersifat bruto/kotor.

* Produk Nasional Bruto (GNP)

Produk Nasional Bruto (Gross National Product) atau PNB meliputi nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun; termasuk hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut.

Rumus

GNP = GDP – Produk netto terhadap luar negeri

* Produk Nasional Neto (NNP)

Produk Nasional Neto (Net National Product) adalah GNP dikurangi depresiasi atau penyusutan barang modal (sering pula disebut replacement). Replacement penggantian barang modal/penyusutan bagi peralatan produski yang dipakai dalam proses produksi umumnya bersifat taksiran sehingga mungkin saja kurang tepat dan dapat menimbulkan kesalahan meskipun relatif kecil.

Rumus :

NNP = GNP – Penyusutan

* Pendapatan Nasional Neto (NNI)

Pendapatan Nasional Neto (Net National Income) adalah pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi. Besarnya NNI dapat diperoleh dari NNP dikurang pajak tidak langsung. Yang dimaksud pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain seperti pajak penjualan, pajak hadiah, dll.

Rumus :

NNI = NNP – Pajak tidak langsung

* Pendapatan Perseorangan (PI)

Pendapatan perseorangan (Personal Income)adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan kegiatan apapun. Pendapatan perseorangan juga menghitung pembayaran transfer (transfer payment). Transfer payment adalah penerimaan-penerimaan yang bukan merupakan balas jasa produksi tahun ini, melainkan diambil dari sebagian pendapatan nasional tahun lalu, contoh pembayaran dana pensiunan, tunjangan sosial bagi para pengangguran, bekas pejuang, bunga utang pemerintah, dan sebagainya. Untuk mendapatkan jumlah pendapatan perseorangan, NNI harus dikurangi dengan pajak laba perusahaan (pajak yang dibayar setiap badan usaha kepada pemerintah), laba yang tidak dibagi (sejumlah laba yang tetap ditahan di dalam perusahaan untuk beberapa tujuan tertentu misalnya keperluan perluasan perusahaan), dan iuran pensiun (iuran yang dikumpulkan oleh setiap tenaga kerja dan setiap perusahaan dengan maksud untuk dibayarkan kembali setelah tenaga kerja tersebut tidak lagi bekerja).

Rumus :

PI = (NNI + transfer payment) – (Laba ditahan + Iuran asuransi + Iuran jaminan social + Pajak perseorangan )

* Pendapatan yang siap dibelanjakan (DI)

Pendapatan yang siap dibelanjakan (Disposable Income) adalah pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi. Disposable income ini diperoleh dari personal income (PI) dikurangi dengan pajak langsung. Pajak langsung (direct tax) adalah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, artinya harus langsung ditanggung oleh wajib pajak, contohnya pajak pendapatan.

Rumus :

DI = PI – Pajak langsung

Perbedaan GNP dan GDP

GNP – GDP = Net Factor Income Abroad (penerimaan bersih pendapatan

faktor produksi dalam hubungan antar negara)

GNP = A + B

GDP = A + C

R = B – C

Dimana :

A = Hasil faktor produksi warga negara Indonesia di dalam negeri

B = Hasil faktor produksi warga negara Indonesia di luar negeri

C = Hasil faktor produksi warga negara asing di Indonesia

R > 0 → B > C → GNP <>

R <> GDP → Modal DN lebih dominan

R = 0 → B = C → GNP = GDP → Modal LN dan DN seimbang

Metode Perhitungan Pendapatan Nasional

1. Production Approach

Menurut definisi, GNP dan GDP adalah pendapatan nasional dari sisi produksi yang dihitung dengan cara menjumlahkan seluruh nilai pasar dari barang dan jasa akhir (final good and services).

Pada kenyataannya, cara ini mustahil dilakukan karena 2 (dua) alasan, yaitu:

* Sulit membedakan barang/jasa apakah merupakan barang/jasa akhir atau bukan. Menurut definisinya, barang/jasa akhir adalah barang dan jasa yang siap dikonsumsi oleh konsumen tanpa melakukan proses lebih lanjut. Jadi, penyebutan kata ”akhir” di sini ditentukan oleh konsumennya. Contoh: tepung terigu yang dibeli oleh ibu rumah tangga merupakan barang akhir, tetapi jika pembelinya perusahaan roti, tepung terigu tersebut bukan barang akhir melainkan bahan baku untuk diproses lebih lanjut untuk membuat roti.

* Penghitungan berdasarkan nilai barang/jasa akhir akan menimbulkan ”penghitungan ganda” atau double counting. Misalkan nilai tepung terigu yang sudah dihitung sebagai barang akhir akan terhitung lagi pada waktu menghitung nilai roti. Sebagai jalan keluarnya, yang dijumlah adalah nilai tambah atau value addednya. Value added adalah nilai yang ditambah pada suatu barang/jasa.

Value added = nilai barang jadi – nilai barang baku.

Ada 11 (sebelas) lapangan usaha yang mempengaruhi pendapatan nasional

dilihat dari pendekatan produksi, yaitu:

a) pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan;

b) pertambangan dan penggalian;

c) industri pengolahan;

d) listrik, gas dan air minum;

e) bangunan;

f) perdagangan, hotel dan restoran;

g) pengangkutan dan komunikasi;

h) bank dan lembaga keuangan lainnya;

i) sewa rumah;

j) pemerintahan dan pertahanan; dan

k) jasa-jasa

2. Income Approach

Pendapatan nasional dari sisi pendapatan dihitung dengan cara menjumlahkan seluruh penerimaan atas faktor produksi antara lain yaitu:

- Upah/gaji sebagai penerimaan atas tenaga kerja

- Sewa sebagai penerimaan atas properti (gedung, tanah, mesin dll)

- Bunga sebagai penerimaan atas modal

- Deviden sebagai penerimaan atas surat berharga dan lain-lain

3. Expenditure Approach

Pendapatan nasional sisi pengeluaran atau expenditure approach dihitung dengan cara menjumlahkan seluruh pengeluaran dilakukan oleh para penerima pendapatan dari Income Approach. Biasanya ditulis dengan suatu persamaan identitas yang disebut identitas pendapatan nasional atau National Income Identity (NII), yaitu :

Y = C + I + G + (X – M)

Dimana :

Y = Pendapatan Nasional

C = Consumption / konsumsi

I = Investasi

G = Government Expenditure / pengeluaran pemerintah

X = Export

M = Import

Secara teori, jika tidak ada hal-hal lain yang berpengaruh, besarnya pendapatan

nasional sisi produksi = besarnya pendapatan nasional sisi penerimaan =

besarnya pendapatan nasional sisi pengeluaran.

Menurut metode ini ada beberapa jenis pengeluaran agregat dalam suatu perekonomian :

• Konsumsi Rumah Tangga (Household Consumption)

• Pengeluaran Investasi (Investment Expenditure)

• Konsumsi Pemerintah (Government Consumption)

• Ekspor Neto (Neto Export)

Faktor yang memengaruhi pendapatan nasional

* Permintaan dan penawaran agregat

Permintaan agregat menunjukkan hubungan antara keseluruhan permintaan terhadap barang-barang dan jasa sesuai dengan tingkat harga. Permintaan agregat adalah suatu daftar dari keseluruhan barang dan jasa yang akan dibeli oleh sektor-sektor ekonomi pada berbagai tingkat harga, sedangkan penawaran agregat menunjukkan hubungan antara keseluruhan penawaran barang-barang dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan dengan tingkat harga tertentu.

Jika terjadi perubahan permintaan atau penawaran agregat, maka perubahan tersebut akan menimbulkan perubahan-perubahan pada tingkat harga, tingkat pengangguran dan tingkat kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Adanya kenaikan pada permintaan agregat cenderung mengakibatkan kenaikan tingkat harga dan output nasional (pendapatan nasional), yang selanjutnya akan mengurangi tingkat pengangguran. Penurunan pada tingkat penawaran agregat cenderung menaikkan harga, tetapi akan menurunkan output nasional (pendapatan nasional) dan menambah pengangguran.

* Konsumsi dan tabungan

Konsumsi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pendapatan nasional. Konsumsi adalah pengeluaran total untuk memperoleh barang-barang dan jasa dalam suatu perekonomian dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun), sedangkan tabungan (saving) adalah bagian dari pendapatan yang tidak dikeluarkan untuk konsumsi. Antara konsumsi, pendapatan, dan tabungan sangat erat hubungannya. Hal ini dapat kita lihat dari pendapat Keynes yang dikenal dengan psychological consumption yang membahas tingkah laku masyarakat dalam konsumsi jika dihubungkan dengan pendapatan.

* Investasi

Pengeluaran untuk investasi merupakan salah satu komponen penting dari pengeluaran agregat.

Manfaat mempelajari pendapatan nasional:

1. Mengetahui tentang struktur perekonomian suatu negara

2. Dapat membandingkan keadaan perekonomian dari waktu ke waktu antar

daerah atau antar propinsi

3. Dapat membandingkan keadaan perekonomian antar Negara

4. Dapat membantu merumuskan kebijakan pemerintah.

Adapun sebagian data pendapatan Indonesia dari bidang Pariwisata, berikut adalah

Wisatawan Mancanegara

Tahun

Jumlah
Pengunjung

Devisa
(Juta USD)

2008

6.429.027

7.377,39

2007

5.505.759

5.345,98

2006

4.871.351

4.447,98

2005

5.002.101

4.521,89

2004

5.321.165

4.797,88

(Update : Des 2008)

(sumber: www.indonesia.go.id)

Berikut juga adalah data ekspor dan impor dari Indonesia:

Neraca Perdagangan

Tahun

Ekspor

Impor

2009

59.722,0

50.065,3

2008

137.020,4

129.197,3

2007

114.100,9

74.473,4

2006

100.798,6

61.065,5

2005

85.660,0

57.700,9


Update : Jul 2009
(Nilai : Juta US$)

(sumber: www.indonesia.go.id)

Dan realisasi investasi Indonesia:

Realisasi Investasi

PMA

Proyek

Nilai
(US$.Juta)

2005

907

8.911,0

2006

869

5.991,7

2007

982

10.341,4

2008

1.138

14.871,4

2009

1.108

10.402,0

PMDN

Proyek

Nilai
(Rp.Milyar)

2005

215

30.724,2

2006

162

20.649,0

2007

159

34.878,7

2008

239

20.363,4

2009

223

33.627,2

Updated: 2009-11-30

(sumber: www.indonesia.go.id)

Neraca pembayaran

Neraca pembayaran merupakan suatu ikhtisar yang meringkas transaksi-transaksi antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain selama jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Neraca pembayaran mencakup pembelian dan penjualan barang dan jasa, hibah dari individu dan pemerintah asing, dan transaksi finansial. Umumnya neraca pembayaran terbagi atas neraca transaksi berjalan dan neraca lalu lintas modal dan finansial, dan item-item finansial.

Transaksi dalam neraca pembayaran dapat dibedakan dalam dua macam transaksi.

1. Transaksi debit, yaitu transaksi yang menyebabkan mengalirnya arus uang (devisa) dari dalam negeri ke luar negeri. Transaksi ini disebut transaksi negatif (-), yaitu transaksi yang menyebabkan berkurangnya posisi cadangan devisa.

Contoh: Indonesia membeli jasa dari Malaysia, maka transaksi tersebut menimbulkan kewajiban untuk mengadakan pembayaran kepada Malaysia, sehingga transaksi jasa tersebut merupakan transaksi debit yang dicatat dalam neraca pembayaran dengan tanda minus (–).

2. Transaksi kredit adalah transaksi yang menyebabkan mengalirnya arus uang (devisa) dari luar negeri ke dalam negeri. Transaksi ini disebut juga transaksi positif (+), yaitu transaksi yang menyebabkan bertambahnya posisi cadangan devisa negara.

Contoh: Indonesia menjual jasa ke Malaysia, maka transaksi tersebut menimbulkan hak untuk menerima pembayaran dari Malaysia, maka transaksi tersebut merupakan transaksi kredit yang dicatat dalam neraca pembayaran dengan tanda positif (+).

Fungsi Neraca Pembayaran

Fungsi neraca pembayaran adalah sebagai berikut.

* Sebagai suatu alat pembukuan dan alat pembayaran luar negeri agar pemerintah dapat mengambil keputusan, apakah negara dapat melanjutkan masuknya barang-barang luar negeri dan dapat menyelesaikan pembayaran tepat pada waktunya.

* Sebagai suatu alat untuk menjelaskan pengaruh dan trnsaksi luar negeri terhadap pendapatan nasional.

* Sebagai suatu alat untuk mengukur keadaan perekonomian dalam hubungan internasional dari suatu negara.

* Sebagai suatu alat kebijakan moneter yang akan dilaksanakan oleh suatu negara.

Tujuan utama neraca pembayaran

Tujuan utama neraca pembayaran yaitu untuk memberikan informasi kepada pemerintah tentang posisi keuangannya, khususnya yang terkait dengan hasil praktek hubungan ekonomi dengan negara lain. Neraca pembayaran juga dapat membantu dalam pengambilan keputusan bidang moneter, fiskal, perdagangan dan pembayaran internasional

Komponen Neraca Pembayaran

Neraca pembayaran dibagi kedalam empat komponen sebagai berikut:

a. Neraca perdagangan/Neraca Barang.

Neraca perdagangan yaitu selisih nilai ekspor dan impor barang. Neraca perdagangan termasuk kategori neraca berjalan atau Current Acount. Neraca perdagangan Indonesia umumnya mengalami surplus, artinya nilai ekspor melebihi nilai impor.

b. Neraca Jasa-jasa.

Neraca jasa-jasa yaitu selisih antara ekspor jasa dan impor jasa. Neraca jasa termasuk kategori neraca berjalan atau Current Acount Neraca jasa Indonesia selalu mengalami defisit dan defisitnya lebih besar dari surplus pada neraca perdagangan.

c. Neraca Modal

Neraca modal atau Capital Account merupakan selisih antara aliran modal masuk dan modal keluar. Selama masa krisis ekonomi terlihat neraca modal Indonesia negatif karena banyaknya arus modal jangka pendek ke luar negeri.

d. Neraca Emas

Neraca Emas atau Gold Account adalah transaksi emas ebagai alat bayar atas uang, sedangkan transaksi non monetary gold termasuk ke dalam kategori current account karena diperlukan sebagai barang komoditas biasa.

III. KESIMPULAN

Neraca pembayaran dan pendapatan nasional memiliki manfaat yang hampir sama. Yaitu dapat mengetahui terutama PDB suatu negara kemudian meningkat dengan PNB, umumnya suatu negara berkembang tidak memilki PDB yang lengkap dan terperinci seperti Indonesia alur PDB nya tidak terperinci Amerika Serikat.

Selain bertujuan untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu negara dan untuk mendapatkan data-data terperinci mengenai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara selama satu periode, perhitungan pendapatan nasional juga memiliki manfaat-manfaat lain, diantaranya untuk mengetahui dan menelaah struktur perekonomian nasional. Data pendapatan nasional dapat digunakan untuk menggolongkan suatu negara menjadi negara industri, pertanian, atau negara jasa.

Disamping itu, data pendapatan nasional juga dapat digunakan untuk menentukan besarnya kontribusi berbagai sektor perekomian terhadap pendapatan nasional, misalnya sektor pertanian, pertambangan, industri, perdaganan, jasa, dan sebagainya. Data tersebut juga digunakan untuk membandingkan kemajuan perekonomian dari waktu ke waktu, membandingkan perekonomian antarnegara atau antardaerah, dan sebagai landasan perumusan kebijakan pemerintah.

sumber:

www.id.wikipedia.org

Buku Pengantar Ilmu Ekonomi (Mikro dan Makro) edisi revisi, Rahardja P, Manurung M, Universitas Indonesia

www.indonesia.go.id